Seringkali, kita jatuh cinta bukan dengan orangnya, tapi dengan “jalan keluar” yang dibawanya. Kita merasa kesepian, kita tidak ingin merasa sendiri dan sengsara, kemudian kita melihat orang yang kita temui ini sebagai sebuah “solusi” atas rasa kesepian kita. Kemudian, kita jatuh cinta pada solusi yang dibawanya, bukan benar-benar cinta pada orangnya.
Beberapa orang yang lain jatuh cinta dengan “agenda”. Kita telah membuat rencana hidup kita: kapan saatnya mencari pasangan, kapan waktunya menikah, kapan waktunya punya anak, dan lain sebagainya. Dan kemudian kita melihat orang yang kita temui ini sebagai jawaban atas agenda-agenda hidup kita tadi. Untuk yang kesekian kali, kita jatuh cinta, bukan pada orangnya. Tapi pada solusi yang dibawanya atas agenda hidup kita.
Beberapa orang yang lain lagi jatuh cinta pada “obat” yang dibawanya. Kita merasa sakit hati, kita punya trauma di masa lalu, kemudian kita menemukan orang ini sebagai orang yang kita pikir bisa menyembuhkan semua luka kita. Pada saat itu, kita sebenarnya sedang jatuh cinta pada “obat” yang dibawanya. Bukan benar-benar jatuh cinta pada orangnya.
Dan sedikit orang yang beruntung, menemukan orang yang satu ini, mengenali isi hatinya dengan baik, dan kemudian kita jatuh cinta padanya. Dan sedikit yang beruntung selanjutnya, jatuh cinta, sepenuhnya pada orangnya.”
Seorang yang mencintai kita karena harta, suatu saat pasti meninggalkan kita karena harta tersebut. Seorang yang mencintai kita karena status/jabatan yang kita punya, suatu saat pasti akan meninggalkan kita karena status/jabatan tersebut. Seorang yang mencintai kita karena cinta kepada Tuhannya, dia tidak akan pergi ke mana-mana. Kecuali dia sudah tidak lagi cinta kepada Tuhannya.
Mencintai orang di saat orang tersebut sukses itu mudah. Mempertahankan komitmen agar tetap cinta meskipun pasangan kita sedang mendapatkan banyak masalah, itulah yang susah.