Sambil mengunyah roti saya melakukan
percakapan basa-basi dan keakraban dengannya, hingga satu pertanyaan yang
mengubah alur obrolan malam itu.
“Neng, jurusan apa?”
“TI, Pak. Teknik Industri! Baru aja tahun
ke-dua”
Menunggu
latihan untuk Pagelaran Seni Budaya, sengaja saya hampiri pedagang roti di
pinggir area latihan. Terbesit keinginan mengobrol dengannya.
(ngomong-ngomong
kenapa saya suka banget sih ngobrol sama pedagang? Mbok ya Pak Rektor ngono loh yang diajak ngobrol.)
“Cuma ada dua hal yang kita lakukan di
dunia, neng. Memperjuangkan hidup, atau hidup untuk berjuang. Beda loh neng,
kalo yang memperjuangkan hidup, kita mah bekerja terus untuk mencari uang, buat
makan sendiri sama keluarga. Gitu aja terus neng, gak pernah berbagi buat yang
lain. Beda lagi kalo hidup untuk berjuang. Dia mah hidup tuh untuk berbagi sama
orang lain juga. Mencari ilmu neng, termasuk berjuang. Sama kayak neng sekarang
di ITB kan mencari ilmu, kan ya?
Tinggal sekarang, ilmu yang bagaimana
yang digunakan untuk berjuang. Itu juga beda loh neng. Kalau neng mencari ilmu
di Teknik Industri, terus nantinya bekerja untuk perusahaan, apalagi perusahaan
asing, terus dapat uang untuk makan sendiri dan keluarga, itu sama saja dengan
neng memperjuangkan hidup.
Tapi coba kalau neng lulus terus bikin
industri sendiri. Atau membantu menyebarkan produk Indonesia biar negara kita
jadi terkenal di dunia, biar gak kalah sama produk dari Cina. Waah, itu baru
yang namanya neng menggunakan ilmu untuk berjuang.”
Ini adalah obrolan paling bermutu yang
pernah saya lakukan di sekitaran ITB dengan seorang pedagang. Ialah Pak Edo,
pedangang roti lulusan SD yang sukses melobi pihak Ikatan Alumni ITB untuk
memberikan beasiswa pada anaknya karena ia berkeinginan menyekolahkan anaknya
di ITB. Pedagang yang ingin membuat usaha budidaya udang di Subang untuk
membiayai sekolah dua anaknya yang lain, dan pedagang yang mengatakan hal
paling keren sebagai penutup:
Kalau nanti udah lulus terus berusaha
atau bekerja, jangan mengejar uang yang didapat, neng. Tapi coba kita berusaha
dulu yang baik, bekerja dengan bagus, baru kita dibilang pantas dapat uang.
Karena kalo ujung-ujungnya neng mengejar uang, ya balik lagi atuh jadi orang
yang memperjuangkan hidup. Padahal kita harus apa coba neng?
berkata saya dengan mantap: “Hidup untuk
berjuang, pak!”
“Naah, gitu atuh. Itu baru namanya anak
ITB yang cerdas, neng!”
Bagaimana menurut anda kisah di atas?
Saya sendiri sungguh takjub membacanya. Dan saya rasa, kisah di atas seharusnya
dibaca oleh semua mahasiswa Indonesia. Khususnya oleh mahasiswa-mahasiswa yang
masih punya prinsip berjuang untuk hidup.
Setelah membaca kisah di atas, saya jadi
semakin yakin, sungguh, inspirasi itu bisa datang dari mana saja. Asalkan kita
mau membuka hati, mata, dan telinga.
Untuk versi asli dari kisah di atas,
silakan kunjungi link
berikut. Semoga anda bisa menemukan kisah-kisah lain yang tidak
kalah menarik di sana.